Daftar 10 Broker Eksportir Sampah Elektronik Illegal Amerika Serikat
(Sumber : https://www.ban.org/reports/brokers-of-shame)
● Corporate eWaste Solutions (CEWS) Hayward & Brea, California Olathe, Kansas
● Creative Metals GroupChicago, Illinois
● EDM Chino, California, Piscataway, New Jersey, Plainfield,
Indiana
● First American Metals Morris, Illinois, Atlanta, Georgia dan Fort
Worth, Texas
● Gem Lifecycle Solutions Ontario, California dan Dallas, Texas
● Greenland Resource Chino, California & Fairview, New
Jersey
● IQA Metals Chino, California, Corona, California, Grand Prairie, Texas
● PPM Recycling Paramount, California, Santa Fe Springs, California, Houston,
Texas
● Semsotai Brea, California & Frederick, Maryland
SEATTLE, WA, 22 Oktober 2025 – Hari ini, Basel Action Network (BAN) merilis laporan investigasi terbaru berjudul “Brokers of Shame: The New Tsunami of American e-Waste Exports to Asia”, yang mengungkap bagaimana sekelompok broker besar di Amerika Serikat tampaknya memfasilitasi perdagangan limbah elektronik bernilai miliaran dolar ke negara-negara berkembang. Berdasarkan data perdagangan, observasi lapangan, dan pelacakan GPS independen, temuan BAN menunjukkan bahwa volume besar limbah elektronik dari AS terus diekspor ke negara-negara yang sebenarnya telah melarang impor limbah tersebut dan tidak memiliki kapasitas memadai untuk menanganinya. Seperti yang ditunjukkan oleh berbagai tindakan penegakan hukum di negara-negara tersebut, perdagangan ilegal dan tidak diinginkan ini tetap berlangsung dan berkembang, menimbulkan kekhawatiran serius dari sisi etika, lingkungan, dan hukum.
Penelitian BAN memperkirakan bahwa setiap bulan
sekitar 2.000 kontainer pengapalan (setara dengan kurang lebih
32.947 metrik ton) berisi limbah elektronik bekas dari AS
dikirim ke negara-negara yang melarang impor limbah tersebut dan tidak memiliki
kemampuan untuk mengelolanya dengan aman. Antara Januari 2023 hingga Februari
2025, sepuluh “broker aib” asal AS yang disorot dalam laporan
ini tampaknya telah mengekspor lebih dari 10.000 kontainer limbah
elektronik, dengan nilai diperkirakan melebihi 1 miliar dolar
AS. Jika tren ini diekstrapolasi secara industri, nilai perdagangan
limbah elektronik tersebut bisa melebihi Rp 3,2 Triliun per bulan,
dengan Malaysia—negara peserta Basel Convention—teridentifikasi
sebagai penerima utama. Selama periode penelitian, BAN memperkirakan bahwa
pengiriman limbah elektronik dari AS mungkin telah mewakili hampir 6%
dari seluruh perdagangan AS ke Malaysia, yang menyoroti besarnya skala
perdagangan beracun ini.
“Perusahaan-perusahaan
ini menampilkan diri mereka sebagai daur ulang yang bertanggung jawab dan
membantu mengatasi krisis limbah elektronik,” ujar Jim Puckett,
Pendiri Basel Action Network (BAN). “Namun, data dan
investigasi lapangan kami menunjukkan pola ekspor yang mengkhawatirkan dan
tampaknya bertentangan dengan upaya Amerika Serikat maupun internasional untuk
memastikan penanganan limbah berbahaya yang aman dan legal. Praktik-praktik ini
merusak kepercayaan publik, supremasi hukum, standar sertifikasi industri,
serta perlindungan terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.”
Laporan
tersebut juga mengungkap bahwa
• Kontainer yang dilacak oleh BAN dialihkan dan
dikirim ke Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, dan Uni Emirat Arab,
meskipun terdapat larangan jelas berdasarkan Konvensi Basel
dan peraturan nasional negara-negara tersebut untuk menerima limbah ini secara
sah.
• Delapan dari sepuluh broker yang teridentifikasi memiliki Sertifikasi
R2V3 — sebuah standar industri yang seharusnya mencegah
praktik-praktik berpotensi ilegal dan berbahaya seperti yang tampaknya mereka
lakukan.
Beberapa broker beroperasi di California,
meskipun negara bagian tersebut memiliki undang-undang limbah elektronik yang
sangat ketat yang mengharuskan pelaporan penuh serta penanganan limbah
elektronik dan limbah universal secara bertanggung jawab di seluruh rantai
pengelolaan.
• Sebuah peritel besar dan perusahaan Fortune 500 (Best Buy)
juga terlibat dalam praktik ekspor berbahaya ini, sebagaimana terungkap melalui
pelacakan GPS oleh BAN — menunjukkan perlunya kehati-hatian yang lebih besar
dalam pengawasan rantai pengelolaan limbah di tahap hilir (downstream due
diligence).
• Salah satu “broker aib” yang teridentifikasi, GEM Iron and Metal,
Inc., baru-baru ini justru mendapat kontrak dari U.S. Defense
Logistics Agency untuk mengelola dan memproses limbah elektronik
sensitif dari Departemen Pertahanan AS — yang diyakini sebagai
penghasil limbah elektronik terbesar di dunia.
• Limbah elektronik berbahaya sering kali disalahklasifikasikan
sebagai “bahan komoditas” seperti logam mentah, atau perangkat
elektronik baru atau berfungsi, kemungkinan besar untuk menghindari
deteksi atau kewajiban pembayaran bea masuk.
• Di negara-negara penerima limbah elektronik AS, pekerja tanpa dokumen
yang putus asa mencari nafkah terpaksa bekerja di fasilitas darurat
di dekat perkebunan kelapa sawit dan kawasan industri, menghirup asap
beracun saat mereka mengupas kabel, melelehkan plastik, dan membongkar
perangkat elektronik kompleks tanpa alat pelindung diri.
Skala permasalahan limbah elektronik global terus meningkat dengan konsekuensi yang menghancurkan. Pada tahun 2022, tercatat 62 juta ton limbah elektronik dihasilkan di seluruh dunia — jumlah tertinggi sepanjang sejarah — dan angka ini diproyeksikan naik 32% menjadi 82 juta ton pada tahun 2030. Namun, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hanya sekitar 17–22% dari limbah tersebut yang dikumpulkan dan didaur ulang secara resmi — dan bahkan angka ini pun dianggap mengecilkan masalah yang sebenarnya. BAN melaporkan bahwa sebagian besar dari bahan yang diklaim sebagai hasil “daur ulang” tersebut pada kenyataannya diekspor ke fasilitas daur ulang kotor di negara-negara berkembang.
“Perdagangan limbah plastik dan elektronik
ke negara saya telah menimbulkan kerusakan yang luar biasa besar,”
ujar Pui Yi Wong, Peneliti BAN di Malaysia.
“Para penyelundup limbah dan pendaur ulang ilegal secara terang-terangan
melanggar hukum Malaysia atas nama ‘daur ulang’, demi meraup keuntungan dengan
mencemari air, udara, dan tanah kami. Mereka membuat masyarakat sakit,
mengeksploitasi serta meracuni pekerja tanpa dokumen, dan memupuk praktik
korupsi. Seperti halnya Tiongkok, Malaysia kini belajar dengan cara yang pahit
bahwa mendaur ulang limbah dunia datang dengan harga yang sangat mahal. Masyarakat
Amerika seharusnya mendaur ulang perangkat elektronik dan plastik bekas mereka
di negaranya sendiri.”
Laporan “Brokers of Shame”
menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap menjadi satu-satunya negara
industri maju yang belum meratifikasi Konvensi Basel,
dan termasuk dalam enam negara di dunia yang gagal
melakukannya. Konvensi Basel adalah perjanjian internasional yang
dirancang untuk mencegah negara-negara industri kaya membuang limbah
berbahaya dan limbah lainnya ke negara-negara berkembang.
Menurut BAN, karena pemerintah federal AS
belum bertindak tegas untuk menghentikan perdagangan gelap ini,
tanggung jawab kini berada di tangan para pemimpin industri
untuk mereformasi operasi dan sistem sertifikasi mereka. Hal
ini penting agar komunitas di Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika,
dan wilayah lainnya tidak menghadapi masa depan yang terkubur di bawah
gunungan limbah elektronik beracun dan berbahaya.
BAN menegaskan bahwa laporan ini bukanlah
kecaman terhadap seluruh industri daur ulang elektronik, melainkan seruan
untuk meningkatkan akuntabilitas dan melakukan reformasi nyata.
Metodologi
Temuan
BAN didasarkan pada analisis catatan pengiriman dan Bill of Lading,
data bea cukai dan perdagangan, serta pelacakan GPS independen
terhadap beberapa pengiriman terpilih, yang kemudian dikonfirmasi melalui
investigasi lapangan di negara-negara tujuan antara 1 Januari 2023
hingga 28 Februari 2025.
Metodologi lengkap, tabel data, serta deskripsi metode lapangan untuk masing-masing
“broker aib” dapat dilihat secara daring di Lampiran A (Appendix A)
dari laporan tersebut.
Laporan lengkap serta rekomendasi BAN kepada para
pihak yang terlibat dalam perdagangan limbah elektronik dapat dibaca di sini:
🔗 https://www.ban.org/reports/brokers-of-shame
Footnotes:
Kontak Person : Jim
Puckett, Founder Basel Action Network email: jpuckett@ban.org
Tentang Basel Action Network (BAN)
Didirikan
pada tahun 1997, Basel Action Network (BAN) adalah sebuah organisasi
amal 501(c)(3) yang berbasis di Seattle, Washington, Amerika Serikat.
BAN merupakan satu-satunya organisasi di dunia yang berfokus secara
khusus pada penanganan ketidakadilan lingkungan global dan ketidakefisienan
ekonomi akibat perdagangan limbah beracun serta dampak destruktif yang
ditimbulkannya.
Saat
ini, BAN berperan sebagai pusat informasi utama (information clearinghouse)
mengenai perdagangan limbah bagi jurnalis, akademisi, dan masyarakat umum.
Melalui berbagai investigasinya, BAN telah mengungkap tragedi pembuangan
limbah elektronik berbahaya di negara-negara berkembang.
Untuk
informasi lebih lanjut, kunjungi: 🌐
www.BAN.org
Tidak ada komentar:
Posting Komentar