"Temuan 23 Bahan Kimia Plastik dalam darah Perempuan di Gresik harus menjadi early warning agar pengelolaan sampah plastik mendapat perhatian Pemkab Gresik dan perlunya penolakan terhadap wadah makanan dan minuman dari plastik sekali pakai" Ungkap Sofi Azilan Aini
Sampah plastik di Indonesia kini mencapai 12–17% dari total sampah, dan lebih dari 40% tidak terkelola dengan baik, sehingga banyak yang dibakar, bocor ke sungai, atau menumpuk tanpa penanganan. Kondisi ini memperbesar paparan bahan kimia berbahaya, terutama bagi perempuan pemilah sampah yang bekerja tanpa perlindungan memadai.
Plastik mengandung lebih dari 16.000 bahan kimia, dan sedikitnya 4.200 di antaranya berbahaya, termasuk pengganggu hormon, zat karsinogenik, serta senyawa yang mengganggu perkembangan janin dan sistem kekebalan tubuh.
50% Pengelolaan Sampah Dibakar
Pembakaran pada suhu rendah yang umum terjadi di rumah tangga dan TPA terbuka memicu pelepasan partikel polymeric aerosol. partikel padat atau semi-padat berbahan dasar polimer yang sangat ringan, sehingga mudah terangkat ke udara. Partikel ini bisa berbentuk fiber (serat), film, fragmen, atau butiran kecil yang kemudian terbawa oleh angin, tersebar hingga kilometer jauhnya, dan akhirnya turun lagi melalui presipitasi seperti hujan. Inilah yang kemudian berkontribusi pada fenomena ‘hujan mikroplastik’. " Sampah yang tidak dipilah juga memperburuk situasi. Campuran plastik PET, PP, PE, PVC, hingga multilayer yang dibakar bersamaan menciptakan kondisi yang sangat ideal untuk menguapnya bahan-bahan kimia berbahaya dan pembentukan mikroplastik karena tidak ada kontrol suhu dan tidak ada sistem pembakaran tertutup." Ungkap Sofi Azilan aini,lebih lanjut Alumni Fakultas Kesehatan masyarakat Universitas Nahdatul Ulama Surabaya ini menjelaskan bahwa, sampah yang tidak terangkut atau dibuang sembarangan di tempat terbuka akan terpapar panas matahari dan angin sehingga mengalami fragmentasi, menambah beban polusi mikroplastik di udara.
Untuk mengetahui seberapa besar paparan tersebut, Wonjin Institute for Occupational Environmental Health (WIOEH ), Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melakukan biomonitoring pada 32 perempuan pemilah sampah di Gresik, Jawa Timur, terdiri dari 27 pekerja pemilah sampah dan 5 perempuan nonpekerja sebagai kontrol. Analisis dilakukan terhadap 65 jenis bahan kimia dalam darah dan urin. Penelitian kandungan senyawa plastik dilakukan di Laboratorium Green Hospital Korea Selatan milik Wonjin Institute for Occupational Environmental Health.
Hasilnya
menunjukkan bahwa 23 bahan kimia berbahaya terdeteksi pada seluruh peserta,
dengan kadar jauh lebih tinggi pada kelompok pekerja. Temuan ini
menegaskan bahwa aktivitas pemilahan sampah plastik memberikan paparan yang
intens dan berbahaya.
“Temuan kami
menunjukkan bahwa pekerja pemilah sampah di Indonesia terpapar bahan kimia
plastik berbahaya pada tingkat yang jauh lebih tinggi dibanding populasi umum.
Kondisi ini tidak boleh diabaikan. Paparan kronis terhadap senyawa seperti BPA
dan ftalat berpotensi mengganggu hormon, metabolisme, dan kesehatan reproduksi.
Kami berharap penelitian ini menjadi dasar kuat bagi pemerintah dan industri
untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah dan melindungi kesehatan para
pekerja.” Dr. Won Kim WIOEH
|
Senyawa |
Kadar pada Pekerja |
Risiko & Dampak Kesehatan |
|
Ftalat
(DEHP) |
2×
lebih tinggi dari kontrol |
• Mengganggu hormon reproduksi • Menurunkan kesuburan • Meningkatkan risiko gangguan perkembangan janin |
|
Bisphenol
A (BPA) |
2,3× lebih tinggi dari kontrol 10× lebih tinggi dari perempuan Korea 7× lebih tinggi dari perempuan AS |
• Pengganggu hormon estrogen • Meningkatkan risiko kanker payudara • Menyebabkan gangguan metabolisme • Berkaitan dengan penyakit tiroid |
|
PAH
(1-OH-pyrene) |
2,8×
lebih tinggi dari kontrol |
• Meningkatkan risiko kanker paru-paru • Menyebabkan gangguan pernapasan kronis • Melemahkan sistem imun |
|
Flame
retardants (DPHP, DBuP) |
2–3×
lebih tinggi dari kontrol |
• Mengganggu hormon tiroid • Menyebabkan kerusakan hati • Berisiko menyebabkan gangguan perkembangan saraf pada
anak |
Seluruh peserta juga
menunjukkan kadar timbal (Pb) yang lebih tinggi dibanding populasi umum di
negara maju. Timbal merupakan neurotoksin yang dapat menyebabkan penurunan kecerdasan,
tekanan darah tinggi, gangguan hormon, serta risiko cacat perkembangan pada
janin.
Kondisi ini
menunjukkan bahwa semua pemilah sampah menghadapi risiko kesehatan yang berat
akibat paparan berulang dari plastik, debu mikroplastik, dan asap pembakaran.
Dampaknya dapat bersifat jangka panjang dan memengaruhi kesehatan generasi
berikutnya.
“Paparan
bahan kimia plastik pada kadar setinggi ini sangat mengkhawatirkan, terutama
bagi kelompok pekerja perempuan. Banyak dari senyawa yang kami temukan berkaitan
dengan gangguan hormon, risiko penyakit metabolik, hingga masalah kesehatan
reproduksi. Indonesia perlu mengadopsi standar perlindungan pekerja yang lebih
baik, termasuk pemantauan kesehatan berkala, pengurangan paparan di tempat
kerja, dan regulasi yang lebih kuat terhadap bahan kimia berbahaya.” Dr.
Lestari Sudaryanti, dr., M.Kes Fakultas Kedokteran UNAIR.
“Penelitian
ini memperlihatkan dampak dari sistem pengelolaan sampah Indonesia yang masih
buruk. Ketika 60% sampah plastik tidak terkelola dan banyak berakhir di sungai
atau lingkungan terbuka, pekerja di lapangan menjadi pihak pertama yang
terpapar. Temuan tingginya senyawa berbahaya dalam urin pekerja harus menjadi
alarm keras bagi pemerintah untuk memperbaiki tata kelola sampah, mengurangi
plastik sekali pakai, dan memastikan perlindungan bagi pekerja sektor
informal.” Dr.
Daru Setyorini, M.Si ECOTON Foundation


Tidak ada komentar:
Posting Komentar