Bergabunglah! Setiap kata bisa berkontribusi! menyelamatkan sungai dan planet kita

Senin, 15 Desember 2025

Fangsheng di Mangrove Gunung Anyar, Kolaborasi YBA dan ECOTON Jaga Keseimbangan Ekosistem Pesisir Surabaya

Seorang Bikkuni melepaskan seekor Biawak di kebun raya mangrove GunungAnyar
Dalam rangkaian Fangshen yang digelar YBA, Sabtu (14/12)

Surabaya (15/12)
  "Urip iku Urup, Kehidupan manusia itu harus bisa memberikan manfaat kepada semua makhluk, kegiatan yang dilakukan YBA hari ini adalah bentuk dari Urip iku Urup, dimana kegiatan yang dilakukan YBA memberikan manfaat untuk lingkungan hidup" Ungkap Banthe Jayamedho Thera, sebagai Pembina YBAI atau Young Buddhist Association Indonesia memberikan apreasi kepada YBA yang rutin melakukan ritual fangshen.  

Pada tahun 2025 YBAI menutup rangkaian kegiatan tahunan dengan menyelenggarakan FangSheng 2025 di Hutan Mangrove Gunung Anyar, Surabaya. Acara ini menjadi refleksi nyata atas komitmen menghormati kehidupan makhluk lain sekaligus menjaga lingkungan hidup melalui aksi konservasi yang berlandaskan ilmu, spiritualitas, dan kolaborasi lintas sektor. Kawasan hutan mangrove dipilih sebagai lokasi pelepasan satwa karena merupakan habitat alami yang sesuai dan terlindungi secara hukum, memberikan peluang terbaik bagi satwa yang dilepas untuk hidup bebas tanpa ancaman penangkapan kembali.

Fangsheng Berbasis Ilmu dan Berorientasi Ekologi

Perwakilan YBA Indonesia, David Nugraha, menjelaskan bahwa pelepasan satwa dalam kegiatan FangSheng tidak dilakukan sembarangan. YBAI bekerja sama dengan Ecological Observation and Wetland Conservation (Ecoton) untuk memastikan setiap satwa dilepas ke habitat yang cocok, dengan tujuan agar mereka dapat berkontribusi pada keseimbangan ekosistem setempat. “FangSheng ini bukan sekadar melepas hewan, tetapi mengembalikan mereka ke ruang hidup yang tepat. Hutan mangrove dipilih agar satwa bisa benar-benar hidup kembali di habitatnya, sekaligus terlindungi secara hukum,” ujarnya.

Pada FangSheng 2025 ini, satwa yang dilepas mencakup berbagai jenis dengan jumlah sebagai berikut:

·         Biawak: 28 ekor (total 109 kg)

·         Ular: 1 ekor (± 3 meter)

·         Belut: 27 ekor (total 86 kg)

·         Ikan kutuk: ± 4 kg

·         Kura-kura: 1 ekor

·         Ikan bulus: 2 ekor

·         Kol nenek: ± 3,5 kg

·         Kepiting: ± 337 ekor (total ± 189,27 kg)


Pelepasan ini dirancang agar setiap makhluk hidup kembali ke lingkungan yang paling mendukung kelangsungan hidupnya.

Dhamma, Cinta Alam, dan Tanggung Jawab Kemanusiaan

“Karena itu, mencintai alam sama dengan mencintai kehidupan. Apa yang dilakukan YBAI melalui FangSheng ini sangat berarti sebagai edukasi dan latihan batin bagi kita semua,” tutur Bhante. Ia juga mendorong agar ke depan kegiatan serupa dapat diperluas ke program konservasi sumber air demi keberlanjutan kehidupan. Pesan penutup beliau disampaikan dengan penuh semangat:

“Majulah YBA Indonesia, majulah Buddha Sasana di bumi pertiwi ini.”

Metta, Karuna, dan Aksi Nyata Pelestarian Lingkungan

Sementara itu, Ketut Panji Budiawan, Pembimas Agama Buddha Jawa Timur, menyampaikan bahwa FangSheng merupakan ladang praktik metta dan karuna kepada semua makhluk. Melalui kegiatan ini, umat diajak tidak hanya berbuat baik secara personal, tetapi juga berkontribusi menjaga alam agar tetap sehat sebagai ruang hidup bersama.

Isu Mikroplastik dan Tantangan Air Bersih

Materi lingkungan disampaikan oleh Prigi Arisandi, M.Si., pendiri ECOTON, yang menyoroti persoalan serius pencemaran mikroplastik dan kualitas air sungai, termasuk fakta bahwa partikel mikroplastik telah terdeteksi di banyak sungai Indonesia, yang berdampak pada ekosistem dan kesehatan manusia. ECOTON menekankan pentingnya pendekatan berbasis ilmu untuk memantau dan mengatasi persoalan karena berdampak pada kesehatan jangka panjang.

Dewan Pelindung YBAI, Y.M. Bhikkhu Jayamedho Thera, menegaskan bahwa pelestarian alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran Dhamma. Menurut beliau, berbagai bencana alam yang melanda Indonesia tidak lepas dari sikap manusia yang abai terhadap alam, seperti perusakan hutan dan pencemaran lingkungan, yang dampaknya menimbulkan penderitaan besar dan korban jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar