Air hujan malang terungkap dicemari oleh mikroplastik, serpihan kecil plastik berukuran lebih kecil dari 1 mm ini ditemukan di 5 lokasi, Sudimoro, Pasar Belimbing, Pasar Singosari, Merjosari dan Gadang. Penelitian yang dilakukan 6-8 Nopember ini melibatkan partisipasi warga Malang. " kami membuka pengumuman melalui Instagram ecoton mengajak Warga untuk mengumpulkan air hujan disekitar rumah sebanyak 1 liter yang ditampung wadah yang tidak terbuat dari plastik seperti kaleng, panci steinless steel, mangkok atau mug yang diletakkan diketinggian diatas 1,5 meter dan terbebas dari halangan seperti pohon atau bangunan, pengumuman ini mendapatkan respon dari 5 orang di di 4 kecamatan kota Malang" ungkap Alaika Rahmatullah, lebih lanjut sample air hujan ini dikirimkan ke booth Pameran ecoton di MCC lantai 5 Kota malang untuk kemudian dianalisis menggunakan mikroskop stereo untuk identifikasi fisik mikroplastik.
Mikroplastik Air Hujan: Berasal dari Asap Pembakaran Sampah
Kegiatan penelitian dengan pendekaran citizen Science dilakukan Ecoton didukung oleh UNESCO, dalam kegiatan riset partisipatif ini menemukan bahwa mikroplastik yang
terdistribusi ke atmosfer dan mengalami deposisi basah (wet deposition)
melalui air hujan diakibatkan oleh dua sumber utama: emisi pembakaran sampah
plastik dan fragmentasi sampah plastik yang terakumulasi secara terbuka.
“Saat masyarakat membakar sampah plastik, partikel
mikroskopis plastik ikut terlepas ke udara bersama asap dan debu. Partikel-partikel
tersebut kemudian terbawa angin, mengalami pengembunan di atmosfer, lalu turun
kembali ke permukaan bumi bersama butiran hujan. Mekanisme ini dikenal sebagai
wet deposition, di mana udara tercemar menjadi medium baru penyebaran plastik”
ujar Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton.
Lebih lanjut, Rafika menegaskan bahwa temuan ini secara
konkret mengindikasikan bahwa polusi mikroplastik telah menjadi ancaman yang
serius terhadap kualitas udara ambien dan sumber daya air yang vital bagi
kehidupan masyarakat.
Data sumber kontribusi mikroplastik pada Air Hujan
(Tabel 1), sektor pembakaran sampah plastik sebagai kontributor dominan sebesar
55%. Selain itu, sektor transportasi (melalui abrasi ban dan aspal) juga
memberikan kontribusi substansial hingga 33,3%. Sementara itu, sektor rumah
tangga, termasuk laundry dan tekstil domestik 27,7% dan limbah kemasan plastik
yang tak terkelola 22%, menyoroti keragaman jalur transmisi partikel
mikroplastik di atmosfer.
|
Kategori Sumber
Aktivitas |
Presentase |
|
Pembakaran sampah
plastik |
55% |
|
Rumah tangga &
kemasan plastik |
22% |
|
Laundry & tekstil
domestik |
27.7% |
|
Industri &
konstruksi |
16.6% |
|
Transportasi (ban,
aspal, rel) |
33.3% |
|
Aktivitas pariwisata |
11.1% |
|
Perikanan &
pesisir |
5.6% |
|
Pertanian |
5.6% |
(Tabel
1.Tabel Sumber Aktivitas Kontaminasi Mikroplastik, Sumber: Ecoton, 2025)
Tim peneliti Ecological Observation and Wetlands
Conservation (ECOTON) melalui citizen science menemukan sebaran mikroplastik pada air hujan di
wilayah Malang Raya. Hasil analisis sampel air hujan yang dikumpulkan pada 7-9
November 2025 menunjukkan pada 5 lokasi pengambilan sampel di Sudimoro Kota
Malang, Gadang Kota Malang, Merjosari Kota Malang, Singosari Kabupaten Malang,
Blimbing Kota Malang positif terkontaminasi mikroplastik. Konsentrasi tertinggi
ditemukan di Blimbing Kota Malang sebesar 98 partikel per liter. (Gambar 1)
Gambar 1. Sebaran Mikroplastik Pada Air Hujan Malang Raya (Sumber: Ecoton, 2025)
Jenis mikroplastik yang paling dominan adalah fiber
(serat halus plastik sintetis) yang mencapai lebih dari 80% dari total
partikel, disusul oleh film/filamen (lapisan tipis dari kantong plastik atau
kemasan sekali pakai) dan fragmen (pecahan kecil plastik keras).
Ancaman Baru dari Langit
Partikel mikroplastik berukuran di
bawah 5 milimeter, kini telah terdeteksi dalam udara dan air hujan di berbagai
belahan dunia, termasuk Malang Raya. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan
partikel ini terhirup langsung melalui sistem pernapasan atau terbawa air hujan
ke tanah, sungai, dan air tanah yang menjadi sumber air minum masyarakat.
Beberapa studi internasional, seperti
yang diterbitkan di Science of the Total Environment (2022) dan Environmental
Pollution (2023), menunjukkan bahwa mikroplastik di udara dapat membawa logam
berat (seperti timbal dan kadmium) serta senyawa kimia berbahaya seperti
Bisphenol-A (BPA), phthalates, dan flame retardants. Zat-zat ini memiliki efek
toksik pada manusia, termasuk:
·
Peradangan saluran pernapasan akibat paparan partikel asing pada jaringan
paru-paru
·
Stress oksidatif dan kerusakan sel, yang dapat memicu gangguan pada
sistem kekebalan tubuh
·
Gangguan hormon (endokrin disruptor) yang mempengaruhi
keseimbangan hormon reproduksi, tiroid dan metabolisme.
·
Potensi karsinogenik akibat akumullasi bahan kimia aditif di jaringan
tubuh.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar