Bergabunglah! Setiap kata bisa berkontribusi! menyelamatkan sungai dan planet kita

Minggu, 09 November 2025

Citizen Science Ungkap Pencemaran Mikroplastik Dalam Air Hujan Kota Malang

Nandini, Menunjukkan contoh air Hujan yang di tampung dari rumahnya,
di Pasar Belimbing Malang. Air hujan di Uji kadar Mikroplastiknya di 
laboratorium keliling Ecoton yang ada di MCC Lt 4 Malang (9/11/2025)

Air hujan malang terungkap dicemari oleh mikroplastik, serpihan kecil plastik berukuran lebih kecil dari 1 mm ini ditemukan di 5 lokasi, Sudimoro, Pasar Belimbing, Pasar Singosari, Merjosari dan Gadang. Penelitian yang dilakukan 6-8 Nopember ini melibatkan partisipasi warga Malang. " kami membuka pengumuman melalui Instagram ecoton mengajak Warga untuk mengumpulkan air hujan disekitar rumah sebanyak 1 liter yang ditampung  wadah yang tidak terbuat dari plastik seperti kaleng, panci steinless steel, mangkok atau mug yang diletakkan diketinggian diatas 1,5 meter dan terbebas dari halangan seperti pohon atau bangunan, pengumuman ini mendapatkan respon dari 5 orang di di 4 kecamatan kota Malang" ungkap Alaika Rahmatullah, lebih lanjut sample air hujan ini dikirimkan ke booth Pameran ecoton di MCC lantai 5 Kota malang untuk kemudian dianalisis menggunakan mikroskop stereo untuk identifikasi fisik mikroplastik.

Mikroplastik Air Hujan: Berasal dari Asap Pembakaran Sampah

Kegiatan penelitian dengan pendekaran citizen Science dilakukan Ecoton didukung oleh UNESCO, dalam kegiatan riset partisipatif ini menemukan bahwa mikroplastik yang terdistribusi ke atmosfer dan mengalami deposisi basah (wet deposition) melalui air hujan diakibatkan oleh dua sumber utama: emisi pembakaran sampah plastik dan fragmentasi sampah plastik yang terakumulasi secara terbuka.

Saat masyarakat membakar sampah plastik, partikel mikroskopis plastik ikut terlepas ke udara bersama asap dan debu. Partikel-partikel tersebut kemudian terbawa angin, mengalami pengembunan di atmosfer, lalu turun kembali ke permukaan bumi bersama butiran hujan. Mekanisme ini dikenal sebagai wet deposition, di mana udara tercemar menjadi medium baru penyebaran plastik” ujar Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton.

Lebih lanjut, Rafika menegaskan bahwa temuan ini secara konkret mengindikasikan bahwa polusi mikroplastik telah menjadi ancaman yang serius terhadap kualitas udara ambien dan sumber daya air yang vital bagi kehidupan masyarakat.

Data sumber kontribusi mikroplastik pada Air Hujan (Tabel 1), sektor pembakaran sampah plastik sebagai kontributor dominan sebesar 55%. Selain itu, sektor transportasi (melalui abrasi ban dan aspal) juga memberikan kontribusi substansial hingga 33,3%. Sementara itu, sektor rumah tangga, termasuk laundry dan tekstil domestik 27,7% dan limbah kemasan plastik yang tak terkelola 22%, menyoroti keragaman jalur transmisi partikel mikroplastik di atmosfer.

Kategori Sumber Aktivitas

Presentase

Pembakaran sampah plastik

55%

Rumah tangga & kemasan plastik

22%

Laundry & tekstil domestik

27.7%

Industri & konstruksi

16.6%

Transportasi (ban, aspal, rel)

33.3%

Aktivitas pariwisata

11.1%

Perikanan & pesisir

5.6%

Pertanian

5.6%

(Tabel 1.Tabel Sumber Aktivitas Kontaminasi Mikroplastik, Sumber: Ecoton, 2025)

Tim peneliti Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) melalui citizen science menemukan sebaran mikroplastik pada air hujan di wilayah Malang Raya. Hasil analisis sampel air hujan yang dikumpulkan pada 7-9 November 2025 menunjukkan pada 5 lokasi pengambilan sampel di Sudimoro Kota Malang, Gadang Kota Malang, Merjosari Kota Malang, Singosari Kabupaten Malang, Blimbing Kota Malang positif terkontaminasi mikroplastik. Konsentrasi tertinggi ditemukan di Blimbing Kota Malang sebesar 98 partikel per liter. (Gambar 1)

Gambar 1. Sebaran Mikroplastik Pada Air Hujan Malang Raya (Sumber: Ecoton, 2025)

Jenis mikroplastik yang paling dominan adalah fiber (serat halus plastik sintetis) yang mencapai lebih dari 80% dari total partikel, disusul oleh film/filamen (lapisan tipis dari kantong plastik atau kemasan sekali pakai) dan fragmen (pecahan kecil plastik keras).

Ancaman Baru dari Langit

Partikel mikroplastik berukuran di bawah 5 milimeter, kini telah terdeteksi dalam udara dan air hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Malang Raya. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini terhirup langsung melalui sistem pernapasan atau terbawa air hujan ke tanah, sungai, dan air tanah yang menjadi sumber air minum masyarakat.

Beberapa studi internasional, seperti yang diterbitkan di Science of the Total Environment (2022) dan Environmental Pollution (2023), menunjukkan bahwa mikroplastik di udara dapat membawa logam berat (seperti timbal dan kadmium) serta senyawa kimia berbahaya seperti Bisphenol-A (BPA), phthalates, dan flame retardants. Zat-zat ini memiliki efek toksik pada manusia, termasuk:

·         Peradangan saluran pernapasan akibat paparan partikel asing pada jaringan paru-paru

·         Stress oksidatif dan kerusakan sel, yang dapat memicu gangguan pada sistem kekebalan tubuh

·         Gangguan hormon (endokrin disruptor) yang mempengaruhi keseimbangan hormon reproduksi, tiroid dan metabolisme.

·         Potensi karsinogenik akibat akumullasi bahan kimia aditif di jaringan tubuh.

“Temuan ini menjadi fenomena terbentuknya siklus plastik atmosferik, di mana partikel plastik yang berasal dari pembakaran sampah mengalami kondensasi dan kembali ke permukaan bumi bersama hujan. Partikel mikroplastik yang turun bersama air hujan bukan hanya mencemari lingkungan, tapi juga membuka jalur paparan baru bagi manusia melalui udara yang dihirup, air yang diminum, dan tanah” ujar Alaika Rahmatullah, Peneliti Ecoton

Tidak ada komentar:

Posting Komentar