Bergabunglah! Setiap kata bisa berkontribusi! menyelamatkan sungai dan planet kita

Jumat, 30 Januari 2026

Antisipasi Polusi Mikroplastik Perum Jasa Tirta I Dukung Desa Zero Waste di DAS Brantas


(Kediri, 29/1) Aulia Agusta Alamsjah memberikan Paparan Pengendalian
sampah di DAS Brantas dalam Zerowaste Academy 2026 di Kediri.

"Sungai Brantas adalah satu kesatuan dari hulu sampai hilir. Kalau pengelolaan sampah tidak dilakukan bersama sama, pencemaran akan terus berpindah dari satu daerah ke daerah lain,” ujar Aulia Agusta Alamsjah dari Perum Jasa Tirta I dalam kegiatan Zero Waste Academy di Kediri. Pernyataan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas wilayah, menjadi dasar dukungan Perum Jasa Tirta I terhadap program Zero Waste Academy yang diselenggarakan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton)

Rizky Adriyanto, Bappeda Surakarta sedang memaparkan rencana Aksi
Zerowaste Kawasan du depan Peserta Zerowaste Academy dari 12 Kota
yang digelar Ecoton 28-31 Januari 2026 di Gresik dan Kediri

Ecoton Foundation menggelar Zero Waste Academy (ZWA) di Kota Kediri sebagai ruang belajar strategis bagi pemerintah daerah, akademisi, dan organisasi lingkungan untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis pengurangan dari sumber. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari lebih dari 12 kota dan kabupaten di pulau Jawa, serta melibatkan unsur BAPPEDA, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah desa dan kelurahan, serta masyarakat sipil yang memiliki peran langsung dalam pengelolaan sampah di wilayahnya masing-masing.


Dukungan Positif Asisten Walikota Kediri

Kegiatan ZWA dibuka oleh Direktur Eksekutif Ecoton , Dr. Daru Setyo Rini, dan dihadiri oleh Asisten II Pemerintah Kota Kediri, Drs. Hery Purnomo,  serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan,  Indun Munawaroh, S.STP dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri. Dalam sambutannya, Asisten Wali Kota Kediri menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Kediri menyambut baik pelaksanaan Zero Waste Academy dan berharap kegiatan ini menghasilkan praktik nyata yang dapat direplikasi oleh masyarakat. Menurutnya, ZWA tidak hanya penting sebagai forum diskusi, tetapi harus mampu mendorong penerapan langsung di lapangan.

Perum Jasa Tirta I adalah BUMN yang mengelola sumber daya air. Tugasnya menjaga kualitas air, mengoperasikan dan merawat bendungan serta bendung, serta menjalankan konservasi dan pemberdayaan masyarakat di wilayah sungai. Di Sungai Brantas, peran ini mendukung penyediaan air baku, irigasi pertanian, pengendalian banjir, dan operasional pembangkit listrik tenaga air.

(Gresik 28/1) Peserta Zerowaste Academy berada di TPST 3 R Wringin Asri
Desa Wringinanom Gresik
Dalam praktiknya, Perum Jasa Tirta I juga terlibat langsung menangani sampah yang terlanjur masuk ke badan sungai. Upaya ini dilakukan melalui pemasangan trash barrier di titik strategis agar sampah tidak masuk ke infrastruktur penting. Sampah yang terkumpul kemudian diangkat secara rutin dan dibuang ke tempat pembuangan akhir. “Di Waduk Sengguruh, volume sampah yang ditangani mencapai sekitar 35.000 meter kubik per tahun,” jelas Aulia dalam sesi workshop.

Aulia juga menjelaskan bahwa kondisi Sungai Brantas semakin tertekan oleh timbulan sampah domestik dan plastik. Sungai Brantas yang mengaliri 17 kabupaten dan kota di Jawa Timur memegang peran penting bagi air baku, pertanian, dan energi.

“Sampah yang masuk ke sungai bukan hanya mengganggu ekosistem, tapi juga berdampak langsung pada layanan air, irigasi, dan pembangkit listrik yang bergantung pada kondisi sungai,” ujar Aulia. Tekanan sampah ini mengancam fungsi vital Sungai Brantas bagi masyarakat Jawa Timur.

Luthfi dari Dinas Lingkungan Hidup Jombang, peserta Zero Waste Academy yang terlibat dalam pengelolaan sungai di wilayah Brantas menilai bahwa pendekatan zero waste menjadi kunci pencegahan pencemaran “Selama ini sungai sering dianggap hanya sebagai tempat menerima dampak. Lewat Zero Waste Academy, kami diingatkan bahwa perlindungan sungai harus dimulai dari darat, dari bagaimana sampah dikelola di rumah dan desa. Kalau sumbernya dibenahi, beban sungai akan jauh berkurang,” ungkapnya.

PJT Dorong Penguatan Pengelolaan Sampah di Hulu Brantas

Data Konsorsium Brantas periode 2019 sampai 2024 menunjukkan sekitar 57,1 persen limbah padat di wilayah Sungai Brantas berasal dari aktivitas rumah tangga. Ketimpangan pelayanan pengumpulan sampah juga masih tinggi. Di wilayah perkotaan cakupan layanan sekitar 64 persen, sedangkan di pedesaan baru sekitar 15 persen. Kondisi ini mendorong pembuangan sampah langsung ke sungai.

Ancaman lain datang dari mikroplastik. “Mikroplastik berasal dari degradasi sampah plastik dan serat tekstil. Yang mengkhawatirkan, mikroplastik ini sudah ditemukan pada ikan di Sungai Brantas dan berpotensi masuk ke rantai makanan manusia,” kata Aulia. Temuan ini menunjukkan bahwa pencemaran tidak hanya terlihat secara kasat mata, tetapi juga sudah masuk ke sistem ekologi sungai.

Melalui Zero Waste Academy, Perum Jasa Tirta I mendorong penguatan pengelolaan sampah dari hulu, terutama di desa desa tepian Brantas. Aulia menyampaikan bahwa pendekatan zero waste di tingkat desa penting untuk menekan kebocoran sampah ke sungai, sekaligus membangun kesadaran dan sistem pengelolaan yang lebih tertata di masyarakat.

Aulia juga mengapresiasi langkah ECOTON dalam menyelenggarakan Zero Waste Academy. Ia menilai program ini mampu menjembatani pemahaman teknis pengelolaan sungai dengan praktik nyata di tingkat komunitas. “Kegiatan seperti ini penting karena tidak hanya membahas sungainya, tetapi juga sumber masalahnya di darat. Ketika masyarakat desa mulai membenahi pengelolaan sampahnya, dampaknya langsung terasa pada kualitas sungai,” ujar Aulia.

Dukungan Perum Jasa Tirta I pada Zero Waste Academy menegaskan bahwa perlindungan Sungai Brantas membutuhkan kerja bersama antara pengelola sumber daya air, masyarakat sipil, dan pemerintah daerah agar kualitas sungai tetap terjaga secara berkelanjutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar