Gen Z Malang Menggelar aksi didepan Kantor Walikota Malang Lima Mahasiswa Jurusan Penyuluhan, Fakultas Pertanian Universitas Jember Fildza Sabrina Vansyachroni, Febriani Marsha Dwi Hardianti, Indah Dwi Nur Aulia, Vika Anjani dan Dewi Puspita Sari melakukan survey tentang persepsi Generasi Z (Gen Z) di Jawa Timur Terkait Penggunaan plastik sekali pakai dan bahaya mikroplastik. "Dalam survey yang dilakukan pada Juni 2025 hingga Januari 2026 melibatkan 1000 responden pelajar SMA dan Mahasiswa perguruan tinggi yang tinggal di 15 kota/Kabupaten Wilayah Jawa Timur" ungkap Fildza Sabrina Vansyachroni.
Gerakan sosial gen Z untuk mengurangi penggunaan Plastik Sekali Pakai tanpa regulasi hanyalah seruan moral, Yang dibutukan saat ini adalah kepastian hukum dan keberpihakan struktural berupa adanya regulasi pengurangan Plastik Sekali Pakai
15 Kota tempat tinggal responden meliputi : Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, Lamongan, Jember, Situbondo, Probolinggo, Bondowoso, Banyuwangi, Nganjuk, Malang, Lumajang, Kediri dan Tulungagung.92% responden menyatakan menggunakan jenis PSP seperti air minum dalam kemasan, sachet, tas kresek dan gelas plastik.Angka ini menunjukkan tingginya ketergantungan Gen Z terhadap PSP.
"Suara Generasi Z, generasi yang hari ini
jumlahnya hampir 28% dari total penduduk Indonesia, atau sekitar 74 juta jiwa.
Generasi yang tidak hanya menjadi bonus demografi, tetapi juga generasi yang
mewarisi krisis lingkungan yang belum terselesaikan, salah satunya adalah
ancaman mikroplastik" Ungkap
"83% responden mengetahui bahwa plastik bisa terdegradasi menjadi serpihan plastik kecil berukuran dibawah 5 mm yang dikenal dengan Mikroplastik, bahkan 97% Gen Z sebagai responden mengetahui dampak kesehatan mikroplastik yang berbahaya bagi tubuh manusia dan merusak ekosistem" jelas Indah Dwi Nur Aulia. Tingginya pengetahuan tentang bahaya mikroplastik ini mendorong Gen Z mau melakukan perubahan perilaku dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai berupa : Mengganti AMDK dengan membawa tumbler (61%), mengganti penggunaan Styrofoam, kertas minyak dan wadah makanan sekali pakai dengan kotak makanan atau rantang (18%), menggurangi pemakaian tas kresek dan menggantinya dengan totebag (13%), tidak membakar sampah plastik (5%). Membakar sampah plastik adalah pengelolaan sampah yang umum dilakukan di Indonesia, padahal selain menyumbang mikroplastik, aktivitas membakar sampah plastik akan menghasilkan senyawa dioksi dan furan yang bersifat karsinogen. Tidak menggunakan sedotan plastik (2% dan 1% mau meninggalkan saset.
Instagram sumber Utama Informasi Mikroplastik
Informasi tentang bahaya penggunaan PSP dan mikroplastik didapatkan dari Media sosial dan yang paling diminati adalah Instagram (55%), Tiktok (24%), Whatsapp (15%), youtube (4%) Facebook (1%) dan telegram (1%).
Genz dalam survey ini juga menjelaskan
bahwa jenis informasi tentang PSP yang paling diminati adalah fakta-fakta
kesehatian yang berbentuuk reels (33%), Data riset dalam bentuk infografis
(28%), tips praktis dalam bentuk video tutorial (17%), cerita ringan dalam
bentuk story telling(11%) dan 9% menyukai informasi dalam bentuk interaktif
seperti quis dan challenge
Gen Z mau Berbagi.
Menyadari pentingnya informasi tentang mikroplastik maka responden mau ikut terlibat dalam upaya sosialisasi bahaya Mikroplastik dan PSP, 82% menyatakan mau berperan untuk melakukan sharing informasi tentang PSP dan bahaya mikroplastik melalui Instagram, Platform seperti Instagram menjadi medium strategis karena: Penggunanya didominasi usia produktif, khususnya Gen Z, Karakter kontennya relatif formal dan informative dan memiliki daya jangkau besar untuk mendorong agenda kebijakan publik" Ungkap Vika Anjani
Gerakan sosial gen Z untuk mengurangi penggunaan PSP tanpa regulasi hanyalah seruan moral, Yang dibutukan saat ini adalah kepastian hukum dan keberpihakan struktural berupa adanya regulasi pengurangan PSP.
"Gerakan pengurangan plastik sekali pakai harus memiliki sokongan kebijakan sehingga ada sanksi jelas yang membuat masyarakat patuh, sebagaimana yang terjadi di Jepang dan Jerman " Ungkap Dewi Puspita, lebih lanjut Mahasiswa Semeste 6 asal Jetis Mojokerto ini menjelaskan keberhasilan Jepang mengelola sampah bukan semata karena teknologi, tetapi karena regulasi dan disiplin pemilahan sampah sejak rumah tangga, disertai sanksi sosial yang tegas, di Jerman menerapkan Regulasi Extended Producer Responsibility (EPR), yang mewajibkan produsen bertanggung jawab penuh atas kemasan yang mereka hasilkan, termasuk biaya pengelolaannya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar