Surabaya (28/2) – Ecoton menghadirkan instalasi seni bertajuk “Bayi Mikroplastik” dalam acara Urban Market Kota Lama Surabaya yang digelar oleh Komunitas Surabaya Youth Forum dari 28 Februari - 8 Maret 2026. Selain menampilkan bayi mikroplastik ecoton juga memamerkan kran botol plastik raksasa dengan tinggi mencapai 7 meter. Kegiatan Urban Market Youth forum 2026 ini di gelar menjelang waktu berbuka puasa pada sore hingga malam hari. "kami ingin memberikan informasi tentang bahaya penggunaan plastik sekali pakai untuk bungkus makanan yang berujung pada gangguan kesehatan" Ungkap Alaikan Rahmatullah, lebih lanjut koordinator Jaringan Gen Z Jawa Timur Tolak Plastik sekali pakai (JEJAK) ini menjelaskan bahwa Instalasi seni menjadi sarana edukasi publik untuk mengenalkan dampak kesehatan dari penggunaan plastik sekali pakai yang semakin mengkhawatirkan.
Instalasi “Bayi Mikroplastik” menggambarkan situasi darurat kesehatan akibat paparan mikroplastik yang kini tidak lagi hanya mencemari sungai dan laut, tetapi telah ditemukan dalam tubuh manusia. Temuan terbaru Ecoton sepanjang 2025 - 2026 menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik dalam air ketuban, darah perempuan, dan air seni. Fakta ini menandai datangnya era mikroplastik yaitu sebuah fase ketika peradaban yang selama hampir delapan dekade bergantung pada plastik sekali pakai mulai memanen konsekuensi kesehatannya.
“Di mana sebuah peradaban yang tergantung pada plastik sekali pakai sudah berlangsung hampir 8 dekade, manusia telah memetik segala kemudahan dan gaya hidup praktis nan instan. Kini saatnya manusia memanen upahnya berupa kontaminasi mikroplastik dalam darah dan organ tubuh,” ungkap Alaika Rahmatullah. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa dampak mikroplastik terhadap kesehatan, mulai dari gangguan hormon, peradangan, hingga potensi risiko kanker dan gangguan reproduksi. Ini merupakan buah dari perilaku konsumtif dan budaya sekali pakai yang tidak terkendali.
Sejumlah fakta krusial turut disampaikan dalam pameran ini:
1. Indonesia menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbesar ke laut di dunia.
2. Sekitar 57% penduduk masih membakar sampah, yang berisiko melepaskan zat beracun seperti dioksin dan furan ke udara.
3. Rata-rata konsumsi mikroplastik masyarakat Indonesia diperkirakan mencapai 15 gram per bulan per kapita, angka yang menunjukkan tingginya paparan plastik dalam kehidupan sehari-hari.
Pameran ini bertujuan mengedukasi masyarakat tentang ancaman nyata plastik sekali pakai, sekaligus mendorong perubahan perilaku menuju gaya hidup minim sampah.
Gen Z Motor Agen Perubahan Tolak Plastik Sekali Pakai
Pengunjung Urban Market Youth forum 2026 sebagian besar adalah gen Z dan Ecoton merasa perlu untuk melakukan edukasi kepada Gen Z, mengingat 21% populasi Indonesia adalah Gen Z. "lebih dari 70 juta penduduk indonesia atau sekitar 21% warga indonesia masuk dalam generasi z dan dari survey kami menunjukkan bahwa 83% gen Z mau melakukan perubahan perilaku mengurangi penggunaan plastik sekali pakai" ungkap Jofany Ahmad, lebih lanjut aktivis Ecoton ini menjelaskan melalui pameran ini, Ecoton mengajak seluruh masyarakat dan pemerintah untuk melakukan aksi nyata berupa:
- Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai seperti kantong kresek, botol air kemasan, sedotan, dan kemasan sachet.
- Membawa tas belanja guna ulang, botol minum isi ulang, dan wadah makan sendiri.
- Pemerintah perlu membuat peraturan pengurangan atau pembatasan plastik sekali pakai, dan target pengurangan plastik sekali pakai menjadi prioritas nasional dan daerah guna mengendalikan perilaku konsumtif terhadap plastik sekali pakai.
- Masyarakat juga perlu memilah sampah dari rumah dan tidak membakar sampah untuk mengindari paparan mikroplastik di udara dan menggunungnya sampah di TPA.
- Produsen juga perlu membatasi dan meredesain kemasan menuju transformasi wadah dan bisnis guna ulang.
- Masyarakat juga perlu terlibat aktif dalam mendorong pemerintah dan industri untuk menghentikan kran produksi plastik sekali pakai.
Budaya Guna Ulang
Ecoton memberikan contoh konkret dalam upaya pengurangan plastik saset, Koordinator Refillin Ecoton, Jofany Ahmad menyampaikan skema guna ulang sangat efektif dalam mengurangi plastik sekali pakai, terbukti dalam penelitian perilaku konsumen dalam sistem guna ulang yang diterapkan oleh Ecoton melalui Refillin, jika konsumen menerapkan sistem guna ulang dapat mengurangi kemasan saset ukuran 40 ml sebanyak 180-200 sachet dalam satu bulannya. lebih lanjut, Jofany menyampaikan jika masyarakat Surabaya yang saat ini berjumlah kurang lebih 2,5 juta orang, menerapkan sistem guna ulang, maka gerakan ini tidak akan membebani fiskal daerah dalam pengelolaan sampah.
“Perubahan tidak cukup hanya dari konsumen. Industri harus bertanggung jawab dan pemerintah harus berani membatasi bahkan menghentikan produksi plastik sekali pakai. Tanpa itu, generasi mendatang akan terus mewarisi tubuh yang terkontaminasi,” tegas Jofany.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar